Halaman

Cahaya Pengetahuan Muslim

Kamis, 23 Juli 2015

Kiat-Kiat Berakhlak Baik



Untuk menjadi orang yang berakhlak baik, kami berikan beberapa kiat yang insyaa Alloh sangat bermanfaat berikut ini:

Pertama adalah berdo’a kepada Alloh :
Dari Ali bin Abi Tholib bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:


  1. أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ

“Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau.Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

Dan panjatkan pula doa dijauhkan dari akhlak yang buruk,

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. Tirmidzi, shohih)

Perlu diingat, berdoa jangan hanya sekali dua kali, tetapi sesering mungkin.

Kedua, pelajarilah ilmu tentang keutamaan akhlak baik, agar kita semangat dalam memperbaiki akhlak. Diantara keutamaan akhlak adalah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :”Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamul lail.” (Shahihul Jami’)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda : “Sesuatu yang paling agung yang memasukkan manusia kesurga adalah takwa kepada Alloh dan akhlak yang terpuji.” [Shahih : Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Ketiga, pelajarilah ilmu agama Islam dari sumber yang benar, sehingga kita dapat membedakan mana yang baik dan mana akhlaq yang buruk, pelajari kepribadian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Teladani beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. Bagaimana sikap beliau kepada kedua orang tua, bagaimana sikap terhadap orang-orang miskin, kepada teman, saudara, adab berbicara, adab salam dan lain sebagainya, semua sudah dijelaskan dalam hadits-hadits shohih. Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.”(Q.S. Al-Ahzaab : 21)

Keempat, amalkan ilmu yang sudah kita pelajari. Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu dicari demi mencapai sesuatu yang lain. Fungsi ilmu ibarat sebatang pohon, sedangkan amalan seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh.

Maka dari itu, dalam mempelajari ilmu sebaiknya kita cari guru yang akhlaqnya baik, sehingga paling tidak kita bisa langsung melihat dan mencontoh guru kita dalam berakhlak. Demikianlah Imam Malik berpesan kepada putranya: “pergilah untuk belajar!’ ‘Pergilah kepada Robi’ah (guru Imam Malik)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya! (kitab Waratsatul Anbiya hal. 39)

Kelima, bergaul dengan orang-orang yang baik akhlaknya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

Keenam. Bersabar.. Memang memperbaiki Akhlak adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlak.

Berkata Abdulloh bin Mubarok :
“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan adalah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”. [Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]

Wallohu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar