Halaman

Cahaya Pengetahuan Muslim

Kamis, 15 Januari 2015

Mengenalkan Anak Pada Adab Islami



Anak merupakan karunia dan anugerah terindah yang didamba-dambakan oleh setiap pasutri, bahkan eksistensi kebahagiaan sebuah bahtera rumah tangga akan terasa kurang sempurna tanpa kehadiran sang buah hati tersebut. Anugerah mulia ini akan melengkapi keharmonisan hidup berumah tangga serta menjadi qurrotu a’yun (penyejuk hati) bagi orang tuanya. Apabila sang anak dibesarkan di bawah naungan cahaya al-Quran, tumbuh di taman-taman as-Sunnah yang disirami dengan mata air para salafus sholih. Akan tetapi anugerah tersebut akan membawa petaka atau bencana bagi kedua orang tuanya, jika mereka tidak mendidiknya dengan norma-norma keislaman atau bahkan membiarkan anaknya tumbuh berkembang di lingkungan jahiliyyah (non islami) yang berpotensi merusak akhlak dan meracuni kefitrohan jiwanya.

Urgensi mengenalkan adab islami pada anak
Oleh karena itu, pendidik dan orang tua pada khususnya memiliki peran penting dalam mencetak pribadi-pribadi anak yang mengerti dan perhatian terhadap adab-adab Islami, sang anak merasa bangga dan mulia dengan nilai-nilai keislaman yang dimilikinya. Sehingga pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh lingkungan atau media yang tidak mendidik bisa terbendung dan terminimalisir.

Di dalam al-Quran al-karim, tepatnya di surat Luqman mulai dari ayat ke 13-19, Alloh subhanahu wa ta’ala mengisahkan tentang bagaimana pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh Luqman al Hakim (seorang yang sholih) kepada anaknya yang menunjukkan betapa pentingnya pengajaran sang anak tentang adab islami.
Rosululloh sholallohu alaihi wasallam sejak dini telah memberikan tuntunan kepada umatnya agar mengajarkan anak-anak mereka dengan adab-adab islam ini, seperti sabda beliau sholallohu alaihi wasallam berikut;
“Ajarilah anak-anak kalian sholat apabila usia mereka sudah mencapai tujuh tahun dan pakullah (pukulan mendidik)mereka (jika enggan) apabila usianya sepuluh tahun.” (HR. al-Bazzar dan dishohihkan oleh syaikh al-Albani)

Jadi, sejak belasan abad yang lalu, Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan secara umum dan pendidikan anak secara khusus sebagaimana yang disinyalir dalam ayat dan hadits di atas.

Mungkin para orang tua bertanya-tanya tentang apa sebenarnya adab-adab islami tersebut yang harus dikenalkan pada sang anak serta bagaimana cara atau metode mendidik atau mengenalkan anak pada adab-adab tersebut? Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa adab dalam Islam memiliki banyak macamnya, di antaranya insya Alloh akan dipaparkan di poin berikut ini;
  1. Adab dengan Alloh
Adab dengan Alloh merupakan adab tertinggi yang harus mendapat perhatian paling pertama, oleh karena itu si anak harus terlebih dahulu dikenalkan pada adab tersebut, karena  Dia-lah yang  telah menciptakan si anak serta memberikan karunia dan anugerah yang berlimpah kepadanya sehingga dia patut diberitahukan adab dengan sang Penciptanya seperti;

Mengetahui agungnya ciptaan Alloh.
Alam semesta ini merupakan bukti nyata atas kekuasaan Alloh ta’ala serta menunjukkan luasnya rahmat Alloh l terhadap makhluk-Nya. Maka seorang pendidik hendaknya menjelaskan hal ini dengan mengajak si anak untuk melihat dan merenungi ciptaan Alloh yang ada di sekitarnya seperti langit yang ditinggikan tanpa tiang, bumi yang dihamparkan, pohon-pohon yang rindang menjulang dan buah-buahan yang segar dan lain-lain, semua itu merupakan di antara ciptaan Alloh. Sehingga sang anak tahu bahwa Alloh subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang Maha Agung.

Menjaga hak-hak Alloh.
Ketika anak telah mengerti tentang karunia yang diberikan kepadanya dan menghayati ciptaan-ciptaan Alloh yang begitu menakjubkan, maka seorang pendidik harus menanamkan pada diri anak bahwa kita harus bersyukur atau berterima kasih kepada Alloh atas limpahan nikmat tersebut tentunya dengan menjaga hak-hak Alloh seperti beribadah kepada-Nya semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya seperti yang digambarkan dalam kisah Luqman al Hakim bahwa ia berkata kepada anaknya “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Alloh karena syirik itu adalah kezholiman yang besar.”(QS. Luqman: 13)

Mengenalkan anak pada nama-nama dan sifat Alloh.
Di antara adab dengan Alloh adalah mengenalkan pada si anak sebagian nama atau sifat Alloh yang Maha Indah lagi Mulia dengan menjelaskan kandungannya secara singkat, misalnya kita katakan ‘Nak, Alloh itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi atau terluput dari pendengan dan pengetahuan-Nya sampai yang terbetik dalam pikiran kita pun,  Alloh mengetahuinya,’ atau ‘Alloh itu Maha Melihat segala sesuatu tak ada satupun yang terluput dari penglihatan-Nya sampai semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita, Alloh melihatnya.’ Subhanalloh !
  1. Adab dengan orang tua
Orang tua adalah manusia yang amat berjasa bagi si anak. Terutama sang ibu yang dengan susah payah mengandungnya hingga ia dilahirkan ke dunia sampai-sampai nyawa menjadi taruhan demi kelahiran sang anak. Begitu pula perjuangan  seorang bapak yang mengerahkan jerih payahnya untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Maka sudah sepatutnya anak diajarkan tentang adab-adab yang berkaitan dengan kedua orang tuanya seperti;

Berbuat baik kepada keduanya serta tidak meninggikan suara dihadapannya
Orang tua adalah manusia yang paling berhak kita berbuat baik kepadanya. Disamping besarnya pengorbanan keduanya, Alloh pun telah menggandengkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah beribadah kepada-Nya yang menunjukkan besarnya perkara ini.

Alloh berfirman:

 وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”. (QS. al-Isro’: 23)

Mendo’akan keduanya
Do’a yang dipanjatkan oleh anak untuk kedua orang tua merupakan bukti keluhuran adab dan akhlak yang dimilikinya. Alloh ta’ala dalam al-Quran telah mengajarkan bentuk do’a kepada kita untuk orang tua.

 وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا 

“Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. al-Isro’: 24)
  1. Adab dalam bertetangga
Tetangga dalam Islam memiliki hak yang agung sehingga Rosululloh pernah bersabda “Senantiasa Jibril alaihissalam mewasiatkan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai aku mengira dia akan mendapat warisan”. Seorang anak dalam kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dari bermain atau bergaul dengan tetangganya sehingga perlu dikenalkan pada adab-adab bertetangga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Di antara terhadap tetangga adalah:

Memerintahkan anak untuk berbuat baik kepada tetangga dan tidak menyakitinya
Sikap ini merupakan akhlak mulia yang harus ditanamkan pada diri anak, sehingga ia tidak berlaku buruk terhadap tetangganya. Saking besarnya hak tetangga tersebut sampai-sampai Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengatakan bahwa orang yang menyakiti mereka salah satu indikasi kurangnya iman. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda “Tidaklah sempurna iman sesorang di antara kalian dimana tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)

Menyuruh anak untuk memberikan sedikit kuah atau yang semisalnya
Rosululloh sholallohu alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana seorang Muslim memuliakan tetangganya, di antaranya dengan memberikan sedikit kuah kepada mereka dan hal ini menunjukkan perhatian Islam terhadap tetangga. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda “Jika kamu memasak maka Perbanyaklah kuahnya dan berikan kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

Inilah di antara adab-adab yang perlu dikenalkan pada anak sehingga pertumbuhannya selalu dihiasi oleh adab-adab Islami yang akan menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.

Fiqih Pengobatan Secara Islami

Oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc, M.E.I.
Rasa sakit adalah salah satu bentuk ujian dari Alloh ta’ala. Sabar menyikapi segala macam penyakit yang menimpa dengan tetap berprasangka baik kepada Alloh akan mengangkat derajat dan menghapus dosa seorang hamba. Akan tetapi, kesalahan dalam menyikapi ujian berupa penyakit dapat merusak keagamaan seseorang.




Sakit yang menimpa manusia membuktikan bahwa manusia butuh kepada Alloh subhanahu wa ta’ala yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dialah Alloh yang berhak memberi manfaat dan mudharat kepada makhluk-Nya. Manusia yang membutuhkan manfaat dan perlindungan dari mudharat harus meminta kepada-Nya. Di antara rahmat Alloh atas hamba-hamba-Nya, Dia tidaklah menurunkan penyakit di muka bumi ini melainkan Dia turunkan pula obat penawarnya.

Al-Bukhori meriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiallohu anhu, dari Nabi sholallohu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidaklah Alloh turunkan penyakit melainkan Alloh turunkan pula obat penawarnya.” (HR. Bukhori No. 5678)

Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi dan mazhab Maliki berpendapat bahwa berobat hukumnya mubah yaitu dibolehkan. Sementara ulama mazhab Syafi’i, Al-Qadhi rohimahulloh, Ibn Aqil rohimahulloh dan Ibn al-Jauzi rohimahulloh dari kalangan ulama Hambali rohimahulloh berpendapat bahwa berobat hukumnya mustahab yaitu dianjurkan.

Sebenarnya berobat merupakan sebab menyembuhkan penyakit yang dibolehkan oleh Alloh dan Rosul-nya. Sebab tersebut merupakan ikhtiar seseorang dari takdir menuju takdir. Akan tetapi, hak kesembuhan tetap milik Alloh subhanahu wa ta’ala semata.
Muslim meriwayatkan dari Jabir rodhiallohu anhu, dari Rasululloh sholallohu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Setiap penyakit terdapat obat penawarnya, maka apabila obat penyakit tersebut tepat maka atas izin Alloh akan terbebas.” (HR. Muslim No. 5741)

Dalam hadits-hadits shohih telah disebutkan perintah berobat, dan berobat tidaklah menafikan tawakal. Sebagaimana makan karena lapar, minum karena dahaga, berteduh karena panas dan menghangatkan diri karena dingin tidak menafikan tawakal. Tidak akan sempurna hakikat tauhid kecuali dengan menjalani ikhtiar (usaha) yang telah dijadikan Alloh ta’ala sebagai sebab musabab terjadi suatu takdir. Bahkan meninggalkan ikhtiar dapat merusak hakikat tawakal, sebagaimana juga dapat mengacaukan urusan dan melemahkannya. Karena orang yang meninggalkan ikhtiar mengira bahwa tindakannya itu menambah kuat tawakalnya. Padahal justru sebaliknya, meninggalkan ikhtiar merupakan kelemahan yang menafikan tawakal. Sebab hakikat tawakal adalah mengaitkan hati kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dalam meraih apa yang bermanfaat bagi hamba untuk dunia dan agamanya serta menolak mudharat terhadap dunia dan agamanya. Tawakal ini harus disertai dengan ikhtiar, jikalau tidak berarti ia telah menafikan hikmah dan perintah Alloh. Janganlah seorang hamba itu menjadikan kelemahannya sebagai tawakal dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai kelemahannya. (Ibn al-Qayyim, Zaad al-Ma’ad IV/15)
Pada kondisi-kondisi tertentu berobat diwajibkan kepada orang tertentu dalam kondisi tertentu yaitu bagi seorang yang jika meninggalkan berobat bisa jadi membinasakan diri, anggota badan atau dirinya jadi lemah, juga bagi orang yang penyakitnya bisa berpindah bahayanya kepada orang lain.

Syaikh Shalih al-Munajjid hafidzahullah dalam fatwanya No. 2148 yang dimuat dalam situs islamqa.info menjelaskan rincian hukum berobat sebagai berikut:
  1. Berobat jadi wajib jika tidak berobat dapat membinasakan diri orang yang sakit.
  2. Berobat disunnahkan jika tidak berobat dapat melemahkan badan, namun keadaannya tidak seperti yang pertama.
  3. Berobat dihukumi mubah (boleh) jika tidak menimpa pada dirinya dua keadaan pertama.
  4. Berobat dihukumi makruh jika malah dengan berobat mendapatkan penyakit yang lebih parah.
Dalam Islam, ada beberapa obat yang sangat dianjurkan untuk dikonsumi, baik untuk pencegahan maupun untuk pengobatan. Di antara yang disebutkan dalam nash sebagai obat adalah madu, habbahtussauda, minyak zaitun, bekam, ruqyah, kurma ajwa dan lain-lain. Tentu, keyakinan terhadap apa-apa yang disebut sebagai obat oleh Alloh dan Rosul-Nya harus diyakini dengan sepenuhnya, karena itu adalah wahyu Alloh dan Dia Maha Mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi hamba-Nya.
Dalam kitab hadits shohih al-Bukhori terdapat bab khusus tentang pengobatan yaitu kitab al-Thibb yang berarti: Kitab Pengobatan. Demikian pula Imam Muslim banyak meriwayatkan hadits-hadits tentang pengobatan dalam kitab shohihnya. Berikut contoh ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang obat yang dianjurkan untuk dikonsumsi.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman tentang lebah dalam al-Qur’an:

 يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ 

“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS. Al-Nahl [16]: 69)

Al-Bukhori meriwayatkan dari Ibn Abbas rodhiallohu anhu, dari Nabi sholallohu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Kesembuhan terdapat dalam tiga hal, yakni sayatan alat bekam, minuman madu, dan sundutan api. Aku melarang ummatku dari sundutan api.” (HR. Bukhori)

Riwayat Al-Bukhori lainnya, dari Abu Huroiroh rodhiallohu anhu bahwa beliau mendengar Rasululloh sholallohu alaihi wasallam  bersabda, “Habbah Sauda adalah obat dari segala macam penyakit kecuali kematian.”  (HR. Bukhori No. 5688 dan Muslim No. 5761)

Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab sunannya dari Abdulloh ibn Umar, dari bapaknya rodhiallohu anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda, “Gunakan zaitun sebagai lauk dan minyak, karena ia merupakan pohon yang diberkahi.” (HR. Ibnu Majah)

Adapun obat-obatan yang sudah diuji secara ilmiah ilmu kedokteran maka tidak mengapa bagi seorang muslim mengkonsumsinya selama kandungan obatnya halal, dan juga dibolehkan berobat kepada dokter. Dibolehkan pula obat-obatan tradisional yang sudah teruji berdasarkan eksperimen dari para ahlinya yang mengetahui formula obat-obatan, karakteristik dan cara penggunaannya.Tapi peru diingat, bahwa hak kesembuhan hanyalah milik Alloh sehingga selain menjalani ikhtiar dengan berobat juga harus diiringi dengan berdoa kepada Alloh. Sedangkan berobat kepada dukun, orang pintar, lewat bantuan jin, menggunakan benda-benda keramat, sihir, ataupun yang tidak lazim serta tidak masuk akal seperti Batu Ponari, maka jelas diharamkan yang bisa mengarahkan pada kesyirikan. Wallohu ta’ala a’lam…

Berusaha Selalu Zuhud





“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya kamu dicintai Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR. Ibnu Majah. Ibnu Hajar berkata dalam Bulughul Maram, isnadnya hasan).

Pengertian zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya.

Zuhud terhadap dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Tetapi zuhud terdahap dunia adalah engkau lebih yakin dan percaya kepada apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Juga engkau bersikap sama, baik ketika ditimpa musibah maupun tidak, serta dalam pandanganmu, orang lain adalah sama, baik yang memujimu atau yang mencelamu karena kebenaran.

Tingkatan Zuhud

Pertama,
Seseorang yang zuhud terdahap dunia, tetapi ia sebenarnya menginginkannya. Hatinya condong kepadanya, jiwanya berpaling kepadanya, namun ia berusaha untuk mencegahnya. Ini adalah mutazahhid (orang yang berusaha zuhud).

Kedua,
Seseorang meninggalkan dunia – dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala – karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang hina dina, jika dibandingkan dengan apa yang hendak digapainya. Orang ini sadar betul bahwa ia berzuhud, walaupun ia juga memperhitungkannya. Keadaan pada tingkatan ini seperti meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua keping dirham.

Ketiga,
Seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkan sesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara. Perumpamaan lain adalah seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja, tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang. Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk mengelabui anjing tadi. Dan ia pun masuk menemui sang raja.
Begitulah, setan adalah anjing yang menggonggong di depan pintu gerbang menuju Allah Ta’ala, menghalangi manusia untuk memasukinya. Padahal pintu itu terbuka, hijabpnya pun tersingkap. Dunia ini ibarat sepotong roti. Siapa yang melemparkannya agar berhasil menggapai kemuliaan Sang Raja, bagaimana mungkin masih memperhitungkannya?

Wallahu Ta’ala ‘Alam
Diringkas dari buku Tazkiyatun Nafs, Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Qayyim Al-Jauiyyah, Imam al-Ghazali, Putaka Arafah dengan sedeikit perubahah.

Selasa, 23 Desember 2014

Menatap Hari Esok Dengan Tawakal







Oleh: Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I
Hari esok adalah hari yang berada di depan perjalanan hidup seseorang. Hari esok terkadang menjanjikan kebahagiaan dan harapan atau malah mengancam dengan ketakutan dan duka cita nestapa. Hari esok bagi seorang muslim bukan sekedar hidup masa depan di dunia, tetapi juga hidup masa depan di akhirat kelak.
Salah satu bisikan pada diri kita yang menakut-nakuti kita adalah bisikan-bisikan pada hati kita tentang ketakutan akan kefakiran dan kemiskinan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur`an:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir); sedang Alloh menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 268)

Pada diri kita akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini:
  • Bagaimana kehidupan saya di esok hari ?
  • Bagaimana bila setelah lulus aku tidak dapat kerja?
  • Bagaimana jika aku sakit, sedangkan aku tidak punya uang untuk berobat?
  • Bagaimana kalau nanti aku tua kemudian lemah dan tidak mampu bekerja?
Ketika muda, kita selalu dibayangi dengan kemiskinan di waktu dewasa. Ketika dewasa, kita terus dibayangi kesengsaraan di waktu tua. Dan ketika tua masih juga dirisaukan oleh pikiran bagaimana dengan nasib anak cucu  saya nanti ?
Saat sebelum bekerja, kita takut dengan nasib kita ke depan. Dan sesudah dapat kerja, kita pun terus was-was kalau-kalau kena PHK. Begitulah bermacam bentuk kecemasan dan kekhawatiran menghadapi masa depan terus menggelayuti pikiran kita.
Pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana nanti, seandainya begini atau begitu, jikalau nanti…? Sesungguhnya adalah pekerjaan setan agar kita menjadi resah, gelisah, sedih, takut dan cemas, yang pada gilirannya tujuan yang diinginkan setan adalah supaya hati kita terpaut pada dunia, bergantung pada materi dan ujungnya kita rela menghalalkan segala cara untuk menggapai apa saja yang kita inginkan.
Bukankah karena alasan takut lapar, saudara kita bersedia menghalalkan segala cara mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kwitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah ? Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan, membuat sebagian saudara kita pergi ke “orang pintar” agar bertahan pada posisinya atau supaya meningkat ke “kursi yang lebih empuk”? Bukankah karena takut akan kehabisan harta, sebagian kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sedekah?
Mereka itu sebenarnya adalah korban pemiskinan yang dibuat oleh setan. Setan telah berhasil mengelabui mereka dengan menghunjamkan rasa takut dan khawatir di pikiran mereka, sehingga  mereka selalu merasa cemas dan takut dengan masa depan  yang hendak dilaluinya. Mereka takut miskin, takut sengsara dan takut hidup menderita.
Untuk itu Alloh ta’ala mengajarkan bahwa tataplah masa depan dengan tawakal. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 “.. dan bertakwalah kepada Alloh, dan hanya kepada Alloh sajalah orang-orang mu`min itu harus bertawakal”. (QS. Al-Maidah [5]: 11) 

Dan di firman lainnya:
… dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Alloh telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“. (Qs. At-Tholaq [65]:3)

Tawakal merupakan pekerjaan ruhani atau qolbu. Menurut al-Qur`an, perintah tawakal ditujukan kepada jiwa atau qolbu manusia.Segala perintah Alloh diorientasikan kepada jiwa dengan tujuan mendidik, dan memperbaiki kualitasnya. Jiwa yang semakin berkualitas akan menampilkan perilaku lahiriah yang semakin berkualitas pula. Tindakan lahir sangat bergantung pada kerja batin atau jiwanya.

Kata tawakal berasal dari tawakkala-yatawakkalu-tawakkulan, yakni tawakkul. Sebutan yang benar seharusnya tawakkul, bukannya tawakal. Akan tetapi, bangsa Indonesia tampaknya lebih familiar dengan kata tawakal. Tempat kita bertawakal yang diajarkan Islam adalah al-Wakil yaitu Alloh azza wa jalla. Tidak ada sesuatupun selain Dia yang pantas dijadikan tempat menyandarkan segala urusan, menyangkut segala aspek kehidupan manusia.

Sikap tawakal membuahkan keberuntungan duniawi dan ukhrowi, itu pasti. Seseorang yang dicintai Alloh, akan beruntung dunia dan akhirat. Oleh karena itu, jangan salah mempraktekkan tawakal. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memberi contoh praktek tawakal, laksana tawakalnya burung-burung yang berterbangan secara dinamis mencari rezekinya, ke tempat-tempat yang jauh dari tempat tidurnya.
Sebuah riwayat dari Umar bin Khothob rodhiallohu anhu menyebutkan secara marfu’,

“Sekiranya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan melimpahkan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Jadi, orang yang berjiwa tawakal, bukan orang yang serba menunggu dengan pasif, tetapi berjiwa aktif dan dinamis, seperti aktif dan dinamisnya burung-burung dalam mencari rezeki. Burung-burung patut dijadikan contoh yang nyata, dalam hal bertawakal, utamanya dalam usaha mencari rezeki dari Alloh. Wallohu ta’ala a’lam

Kehidupan Yang Hanya Sementara Harus Penuh Dengan Makna

 

Oleh: Ali Maulida, S.S, M.Pd.I
Saudaraku kaum Muslimin…, sesungguhnya ada banyak karakter kehidupan dunia yang harus selalu kita renungi, agar kita dapat menjalani proses kehidupan di dunia ini dengan baik, guna menggapai hasilnya kelak di akhirat juga dengan penuh kebaikan.
Diantara hal yang penting dijadikan bahan renungan, adalah kehidupan dunia bersifat sementara dan tidaklah abadi.
Secara pribadi, setiap manusia akan mengalami fase penutup lembaran kehidupan dunianya yang bernama ‘kematian’. Tidak ada satupun manusia yang dapat lolos darinya. Kematian adalah sesuatu yang pasti datangnya, dan tak ada satupun manusia yang mengetahui kapan datangnya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

 “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (QS. Ali-Imron [3]: 185).

Di dunia ini telah milyaran manusia hidup mendahului kita, dan mereka telah lama tiada, telah habis masa kehidupan dunia yang menjadi bagian mereka. Kita-pun telah amat sering menyaksikan orang-orang yang hidup sezaman dengan kita, baik keluarga, kerabat, tetangga, maupun orang-orang yang tidak kita kenal, namun kita ketahui kabar kematiannya.
Sekalipun demikian jelasnya perkara kematian, namun tetap saja banyak manusia yang lalai darinya, dan tidak mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Padahal setiap detik waktu yang berlalu berarti semakin dekat pula jarak antara dirinya dengan akhir hayatnya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ 

 “Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS. Qof [50]: 19)

Rosululloh  memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat kematian, sebagaimana beliau bersabda:

“Perbanyaklah mengingat ‘pemutus berbagai kenikmatan’ yaitu kematian(HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, dll)

Banyak orang yang tahu tetapi ‘pura-pura lupa’, atau memang kehidupan dunia telah menjadikannya lupa, bahwa kematian adalah pintu gerbang yang akan dimasuki oleh setiap manusia, sebagai fase awal memasuki kehidupan di alam akhirat.
Sifat lupa memang salah satu karakter yang selalu melekat pada diri manusia.  Namun lupa pada hal ihwal kematian sangat berbeda dengan urusan lainnya. Lupa yang satu ini akan sangat fatal akibatnya. Efek negatifnya tidak lagi bisa dianggap remeh, bahkan multi efek dan dalam jangka panjang..!

Jika hal ini terjadi pada diri seorang muslim, lupa pada kematian sesungguhnya adalah indikasi yang paling jelas akan keimanannya yang sangat lemah terhadap kehidupan akhirat. Ia secara tidak sadar merasa bahwa hidupnya di alam dunia seakan abadi. Memang lisannya tidak mengatakan demikian, tetapi berbagai perbuatan dan tindak-tanduknyalah yang menjadi bukti. Ia sangat sering melakukan dosa, bahkan telah menjadikannya rutinitas keseharian. Rasa takut pada ancaman Alloh atas perbuatan maksiat, telah lama sirna dari dalam dirinya.
Perbuatan dosa yang seharusnya terasa pedih di dalam jiwa, sudah lama tak terasa lagi. Kedurhakaan kepada Alloh dan tindakan menyelisihi syariat-Nya, sangat mungkin telah menjadi hal yang lumrah dan biasa saja.

Sebaliknya, begitu banyak janji yang Alloh azza wa jalla dan Rosul-Nya kabarkan berupa pahala nan agung dan berlimpah dibalik setiap bentuk amal sholih, kini tak lagi ia hiraukan. Tak lagi ada ‘kejar, lomba, dan bersegera’ dalam melakukan kebaikan. Indahnya surga tak lagi memikat baginya. Tak heran, karena memang yang dikejarnya hanyalah dunia…!!
Lupa akan kematian, benar-benar akan berefek panjang. Orang yang memiliki sifat ini, dapat dipastikan terbawa arus hawa nafsu dan setan durjana yang selalu siap ‘memangsanya’. Ia tak lagi peduli akan seperti apa kehidupannya di dalam kubur, dan selanjutnya fase kehidupan abadi di akhiratnya nanti.
Renungilah ayat Alloh ta’ala berikut ini:

وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6)  وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (7)  أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ (8)

“….Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang tampak (saja) berupa kehidupan dunia; sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai. Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar ingkar terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka.” (QS. ar-Rum [30]: 6-8)
Akibat kelalaian ini, Alloh memberikan hukuman setimpal bagi mereka di akhirat kelak, sebagaimana dalam firman-Nya:

 وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ (124)  قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125)  قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ (126)

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia akan berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkanku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitupula pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. Thoha [20]: 124-126)

Jadilah Muslim yang Cerdas…
Berbeda dengan orang pertama tadi, adapun seorang muslim yang cerdas akan selalu ingat dengan kematian. Kehidupan di dunia yang sangat sementara ini, ia jadikan kesempatan untuk memperbanyak perbekalan menuju negeri abadi. Setiap detik waktu yang ia miliki terus dioptimalkan menjadi pundi-pundi kebaikan yang ia harapkan menjadi pemberat timbangannya di akhirat kelak.
Muslim yang demikian sangat pantas mendapat predikat ‘al-kayyis’  (cerdas) karena ia menggunakan akalnya untuk berfikir, mentadabburi hakikat kehidupan dunia ini, dan dengan demikian keimanannya menjadi semakin kokoh. Hal ini juga dikarenakan ia pandai mengambil pelajaran (ibroh) dari banyak peristiwa di alam semesta ini.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
 “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan giat beramal untuk kehidupan setelah kematian (akhirat). Adapun orang yang lemah (pandir) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya sedangkan ia mengira mendapatkan pahala dari Alloh (kesuksesan di akhirat).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim)

Hidup yang hanya sekali ini haruslah dimanfaatkan dengan optimal dalam memperbanyak bekal. Bekal yang sesungguhnya dibutuhkan oleh setiap manusia untuk sebuah perjalanan panjang di kehidupan akhirat kelak.

Sebuah perjalanan panjang…? Ya…, kehidupan di akhirat sangatlah panjang, bahkan kekal abadi, dimana ia sangat ditentukan oleh bagaimana kita menata dan mengisi hidup di dunia ini. Hanya ada dua pilihan tempat tinggal bagi manusia, yaitu; surga atau neraka.
Dunia adalah tempat bercocok tanam, dan di akhiratlah kita akan menuai hasilnya. Dunia adalah tempat beramal, hanya disini kesempatan itu terbentang luas. Adapun di akhirat, tak ada lagi sedikitpun waktu untuk beramal, karena disana adalah tempat memetik buah atas amal.

Muslim yang cerdas tentunya akan memanfaatkan seoptimal mungkin waktunya, yaitu usia yang dimilikinya untuk menanam benih berupa karya-karya terbaiknya; amal sholih yang pasti akan Alloh azza wa jalla berikan balasan di akhirat dengan yang jauh lebih baik.

 وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 


“Berlomba-lombalah kalian dalam melakukan kebaikan…”. (QS. al-Baqoroh [2]: 148).
Akhirnya, selamat berlomba dan berpacu dalam menghasilkan karya terbaik…!