Halaman

Cahaya Pengetahuan Muslim

Selasa, 23 Desember 2014

Kehidupan Yang Hanya Sementara Harus Penuh Dengan Makna

 

Oleh: Ali Maulida, S.S, M.Pd.I
Saudaraku kaum Muslimin…, sesungguhnya ada banyak karakter kehidupan dunia yang harus selalu kita renungi, agar kita dapat menjalani proses kehidupan di dunia ini dengan baik, guna menggapai hasilnya kelak di akhirat juga dengan penuh kebaikan.
Diantara hal yang penting dijadikan bahan renungan, adalah kehidupan dunia bersifat sementara dan tidaklah abadi.
Secara pribadi, setiap manusia akan mengalami fase penutup lembaran kehidupan dunianya yang bernama ‘kematian’. Tidak ada satupun manusia yang dapat lolos darinya. Kematian adalah sesuatu yang pasti datangnya, dan tak ada satupun manusia yang mengetahui kapan datangnya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

 “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (QS. Ali-Imron [3]: 185).

Di dunia ini telah milyaran manusia hidup mendahului kita, dan mereka telah lama tiada, telah habis masa kehidupan dunia yang menjadi bagian mereka. Kita-pun telah amat sering menyaksikan orang-orang yang hidup sezaman dengan kita, baik keluarga, kerabat, tetangga, maupun orang-orang yang tidak kita kenal, namun kita ketahui kabar kematiannya.
Sekalipun demikian jelasnya perkara kematian, namun tetap saja banyak manusia yang lalai darinya, dan tidak mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Padahal setiap detik waktu yang berlalu berarti semakin dekat pula jarak antara dirinya dengan akhir hayatnya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ 

 “Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS. Qof [50]: 19)

Rosululloh  memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat kematian, sebagaimana beliau bersabda:

“Perbanyaklah mengingat ‘pemutus berbagai kenikmatan’ yaitu kematian(HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, dll)

Banyak orang yang tahu tetapi ‘pura-pura lupa’, atau memang kehidupan dunia telah menjadikannya lupa, bahwa kematian adalah pintu gerbang yang akan dimasuki oleh setiap manusia, sebagai fase awal memasuki kehidupan di alam akhirat.
Sifat lupa memang salah satu karakter yang selalu melekat pada diri manusia.  Namun lupa pada hal ihwal kematian sangat berbeda dengan urusan lainnya. Lupa yang satu ini akan sangat fatal akibatnya. Efek negatifnya tidak lagi bisa dianggap remeh, bahkan multi efek dan dalam jangka panjang..!

Jika hal ini terjadi pada diri seorang muslim, lupa pada kematian sesungguhnya adalah indikasi yang paling jelas akan keimanannya yang sangat lemah terhadap kehidupan akhirat. Ia secara tidak sadar merasa bahwa hidupnya di alam dunia seakan abadi. Memang lisannya tidak mengatakan demikian, tetapi berbagai perbuatan dan tindak-tanduknyalah yang menjadi bukti. Ia sangat sering melakukan dosa, bahkan telah menjadikannya rutinitas keseharian. Rasa takut pada ancaman Alloh atas perbuatan maksiat, telah lama sirna dari dalam dirinya.
Perbuatan dosa yang seharusnya terasa pedih di dalam jiwa, sudah lama tak terasa lagi. Kedurhakaan kepada Alloh dan tindakan menyelisihi syariat-Nya, sangat mungkin telah menjadi hal yang lumrah dan biasa saja.

Sebaliknya, begitu banyak janji yang Alloh azza wa jalla dan Rosul-Nya kabarkan berupa pahala nan agung dan berlimpah dibalik setiap bentuk amal sholih, kini tak lagi ia hiraukan. Tak lagi ada ‘kejar, lomba, dan bersegera’ dalam melakukan kebaikan. Indahnya surga tak lagi memikat baginya. Tak heran, karena memang yang dikejarnya hanyalah dunia…!!
Lupa akan kematian, benar-benar akan berefek panjang. Orang yang memiliki sifat ini, dapat dipastikan terbawa arus hawa nafsu dan setan durjana yang selalu siap ‘memangsanya’. Ia tak lagi peduli akan seperti apa kehidupannya di dalam kubur, dan selanjutnya fase kehidupan abadi di akhiratnya nanti.
Renungilah ayat Alloh ta’ala berikut ini:

وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6)  وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (7)  أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ (8)

“….Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang tampak (saja) berupa kehidupan dunia; sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai. Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar ingkar terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka.” (QS. ar-Rum [30]: 6-8)
Akibat kelalaian ini, Alloh memberikan hukuman setimpal bagi mereka di akhirat kelak, sebagaimana dalam firman-Nya:

 وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ (124)  قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125)  قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ (126)

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia akan berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkanku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitupula pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. Thoha [20]: 124-126)

Jadilah Muslim yang Cerdas…
Berbeda dengan orang pertama tadi, adapun seorang muslim yang cerdas akan selalu ingat dengan kematian. Kehidupan di dunia yang sangat sementara ini, ia jadikan kesempatan untuk memperbanyak perbekalan menuju negeri abadi. Setiap detik waktu yang ia miliki terus dioptimalkan menjadi pundi-pundi kebaikan yang ia harapkan menjadi pemberat timbangannya di akhirat kelak.
Muslim yang demikian sangat pantas mendapat predikat ‘al-kayyis’  (cerdas) karena ia menggunakan akalnya untuk berfikir, mentadabburi hakikat kehidupan dunia ini, dan dengan demikian keimanannya menjadi semakin kokoh. Hal ini juga dikarenakan ia pandai mengambil pelajaran (ibroh) dari banyak peristiwa di alam semesta ini.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
 “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan giat beramal untuk kehidupan setelah kematian (akhirat). Adapun orang yang lemah (pandir) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya sedangkan ia mengira mendapatkan pahala dari Alloh (kesuksesan di akhirat).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim)

Hidup yang hanya sekali ini haruslah dimanfaatkan dengan optimal dalam memperbanyak bekal. Bekal yang sesungguhnya dibutuhkan oleh setiap manusia untuk sebuah perjalanan panjang di kehidupan akhirat kelak.

Sebuah perjalanan panjang…? Ya…, kehidupan di akhirat sangatlah panjang, bahkan kekal abadi, dimana ia sangat ditentukan oleh bagaimana kita menata dan mengisi hidup di dunia ini. Hanya ada dua pilihan tempat tinggal bagi manusia, yaitu; surga atau neraka.
Dunia adalah tempat bercocok tanam, dan di akhiratlah kita akan menuai hasilnya. Dunia adalah tempat beramal, hanya disini kesempatan itu terbentang luas. Adapun di akhirat, tak ada lagi sedikitpun waktu untuk beramal, karena disana adalah tempat memetik buah atas amal.

Muslim yang cerdas tentunya akan memanfaatkan seoptimal mungkin waktunya, yaitu usia yang dimilikinya untuk menanam benih berupa karya-karya terbaiknya; amal sholih yang pasti akan Alloh azza wa jalla berikan balasan di akhirat dengan yang jauh lebih baik.

 وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 


“Berlomba-lombalah kalian dalam melakukan kebaikan…”. (QS. al-Baqoroh [2]: 148).
Akhirnya, selamat berlomba dan berpacu dalam menghasilkan karya terbaik…!

Selasa, 09 Desember 2014

Alloh Satu-satunya Tempat Untuk Bergantung




Oleh: Ibrahim Bafadhol, Lc., M.Pd.I.

Tahukah Anda akan Dzat yang selalu memperhatikan diri Anda di kala gundah dan gelisah. Dzat yang selalu mendengar keluh-kesah dan rintihan. Dialah yang mampu mengabulkan seluruh harapan dan impian. Siapa saja yang mengenal-Nya, niscaya akan mencintai-Nya. Dikala Anda sedang berharap, maka berharaplah hanya kepada-Nya. Dikala Anda sedang memohon, maka memohonlah hanya pada-Nya. Jika Anda berharap selain kepada-Nya, dapat dipastikan Anda akan menuai penyesalan. Hanya Dia-lah yang layak menjadi tempat bergantung bagi seluruh hamba-Nya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 اللَّهُ الصَّمَدُ

“Alloh tempat bergantung seluruh makhluk-Nya.”  (QS. al-Ikhlash [112]: 2)

Ash-Shomad (tempat bergantung), adalah sebuah nama agung bagi Alloh. Dialah Dzat  Yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan dan berbeda dengan seluruh makhluk-Nya. Kesempurnaan-Nya meliputi semua sisi. Yang Maha Sempurna dalam keagungan-Nya, yang Maha Sempurna dalam kekuasaan-Nya, dan yang Maha Sempurna dalam keilmuan-Nya.Tak ada satu pun yang serupa dengan Dia. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

 وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”  (QS. al-Ikhlas [112]: 4)

 فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kalian dari jenis kalian sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kalian berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro [42]: 11)

Ibnu Abbas rodhiallohu anhu berkata tentang makna Ash-Shomad, “Tuhan yang sempurna kedermawanan-Nya, yang terhormat lagi sempurna kehormatan-Nya, yang Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, yang bersabar lagi sempurna kesabaran-Nya, yang Maha Tahu lagi sempurna pengetahuan-Nya, Dzat yang  sempurna dalam segala macam kedermawanan dan kemuliaan. Dialah Alloh subhanahu wa ta’ala dan inilah sifat-sifatnya yang hanya pantas untuk-Nya, tidak ada yang menyetarai dan menyamai-Nya. Maha Suci Alloh ta’ala yang Esa lagi Maha Perkasa.” (Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim hlm. 1516)

Alloh azza wa jalla memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar menggantungkan seluruh harapan dan permohonan kepada-Nya. Baik dalam hal petunjuk, rezeki, kesehatan, keselamatan, anak, atau yang lainnya. Dia pasti mendengar doa dan seruanmu, serta tak seorang pun dapat menyibukan-Nya atau bingung karena permintaan yang begitu banyak.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ 

”Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rohman [55]: 29)

Yakni, Alloh ta’ala senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki dan lain-lain. Maka dari itu, labuhkanlah semua harapanmu hanya kepada-Nya.

Yang Mengabulkan Setiap Harapan
Sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’ala itu dekat dengan hamba-hamba-Nya. Segala yang engkau harapkan dan keluhkan dari lubuk hatimu yang paling dalam, Alloh dapat mengabulkannya. Alloh ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu terbimbing dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 186)

Alloh ta’ala telah berjanji untuk mengabulkan segala doa yang diminta hamba-hamba-Nya. Akan tetapi bukan doa orang-orang yang lalai, apalagi yang mengingkari kesempurnaan Alloh subhanahu wa ta’ala. Pengabulan doa tersebut hanya akan diberikan kepada hamba- hamba-Nya yang memohon, baik di kala lapang maupun sempit dan di kala sehat maupun sakit. Juga hamba-hamba yang selalu taat menjalankan perintah-Nya serta menjauhi setiap yang dilarang-Nya.

Permohonan untuk mendapat hidayah agar senantiasa berjalan di atas ash-shirothul mustaqim (jalan yang lurus) merupakan permohonan yang paling agung dan terkabulnya doa tersebut merupakan pemberian yang sangat berharga. Maka  mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana cara Idari itu, Alloh  memohon dan minta hidayah tersebut. Alloh memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menghadap ke hadirat-Nya dengan memanjatkan pujian dan sanjungan kepada-Nya, disertai dengan perbuatan amal ibadah dan ketauhidan. Inilah dua wasilah (sarana) yang akan menyampaikan kepada apa yang mereka inginkan. Bertawassul kepada-Nya dengan nama-nama, sifat-sifatNya, dan dengan penghambaan kepada-Nya. Dengan wasilah inilah doa-doa akan dikabulkan oleh-Nya.

Buah Mengimani Sifat Ash-Shomad (Tempat Bergantung)
Ketika seorang mukmin mengimani sifat-sifat Alloh yang salah satunya adalah ash-Shomad (tempat bergantung), maka hal ini akan memberikan beberapa pengaruh yang positif dalam jiwanya, seperti :

   1.  Dengan mengimani sifat Alloh tersebut, maka akan tertanam dalam diri seorang Mukmin keyakinan tentang kesempurnaan Alloh ta’ala.
  2.  Dengan mengimani sifat Alloh tersebut, maka seorang mukmin tidak ragu-ragu dalam melabuhkan setiap harapan dan permohonannya kepada Alloh tanpa menoleh kepada selain-Nya disebabkan keyakinan yang mendalam akan terkabulnya setiap harapan dan permohonannya.
  3. Dengan mengimani sifat Alloh tersebut, maka akan timbul dalam diri seorang mukmin rasa kedekatan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala sehingga melahirkan rasa ketenangan dalam hatinya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ro’d [13]: 28)

  4.  Dengan mengimani sifat Alloh tersebut, maka seorang Mukmin akan merasa tentram dan mantap ketika telah menggantungkan seluruh harapannya kepada Alloh. Sebab, dia meyakini bahwa Alloh subhanahu wa ta’ala sajalah yang Maha Sempurna segala sifat-sifatnya. Yang Maha Sempurna kedermawanan-Nya, Yang Maha Sempurna kehormatan-Nya, Yang Maha Sempurna kebesaran-Nya, Yang Maha Sempurna kesabaran-Nya, Yang Maha Sempurna pengetahuan-Nya, Yang Maha Sempurna kebijaksanan-Nya, dan Yang Maha Sempurna segala sifat-Nya.
  5.  Dengan mengimani sifat Alloh tersebut, maka seorang Mukmin akan selalu bertambah keimanannya. Karena iman itu yazid wa yanqush, bisa bertambah dan berkurang, bertambah karena ma’rifat dan ketaatan, serta berkurang karena kebodohan dan kemaksiatan.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Alloh-lah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8]:2)
Dalam ayat lain Alloh ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا 

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS. Al-Fath [48]: 4)

Demikianlah beberapa manfaat dan hikmah dari rasa ketergantungan seorang  hamba kepada Dzat yang Maha Sempurna lagi tempat bergantung bagi seluruh hamba-Nya. Semoga Alloh ta’ala menetapkan kita menjadi hamba yang senantiasa bergantung dan bertawakkal hanya kepada-Nya. Wallohu A'alam Bishowab.

Makna Sebuah Harga Diri




Oleh: Umar Mukhsin, Lc.

Dalam realita kehidupan bermasyarakat, kita tidak pernah lepas dari pergaulan dengan orang lain, dan tentu menghadirkan fenomena ataupun kejadian yang berbeda-beda, yang terkadang masih terus direkam oleh memori kita. Ada fenomena kebahagiaan yang kita raih ataupun fenomena kesedihan yang tak dapat kita sisih. Ada fenomena canda tawa yang tersaji ataupun duka lara yang tak terpungkiri. Itulah dinamika kehidupan yang bervariasi dan selalu menghiasi perjalanan hidup seseorang di dunia ini.

Dalam sudut pandang Islam, yang bersandar pada nilai-nilai dua sumbernya yang otoritatif (terpercaya) yaitu al-Qur’an dan Hadits. Seorang manusia akan memiliki harga diri yang tinggi di mata Alloh subhanahu wa ta’ala dan di mata para hamba-Nya, bilamana ia meraih sekurang-kurangnya dua hal, yaitu keimanan dan amal sholeh. Ketika seorang manusia mengikrarkan bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi secara benar melainkan Alloh dan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam adalah utusan-Nya, atau ia lahir dan baligh dari keluarga muslim maka semenjak itulah seorang hamba telah meraih harga dirinya. Bahkan dapat dikatakan keimanannya tersebut tidak sebanding dengan emas atau intan berlian sepenuh bumi. Harga dirinya tak ternilai dengan materi dan harta benda, bahkan harga dirinya diingini dan diangankan oleh orang-orang kafir, ketika mereka telah menginjakkan kakinya di neraka. Simaklah firman Alloh subhanahu wa ta’ala yang artinya sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imron [3]: 91)

Dalam ayat ini, Alloh azza wa jalla secara tegas tidak akan menerima tebusan orang-orang kafir terhadap siksa yang diderita oleh mereka akibat dari kekufurannya, walaupun tebusan tersebut berupa emas sepenuh bumi. Hal ini menunjukkan betapa kekufuran orang-orang kafir telah menjadikan diri-diri mereka tidak bernilai dan tidak berharga di mata Alloh. Pada saat yang sama, keimanan begitu tak terhingga nilainya, sehingga emas sepenuh bumi sekalipun tidaklah setara dengan keimanan yang menghujam di hati seorang mukmin.

Saudaraku yang dirahmati Alloh ta’ala, Perkara yang kedua adalah amal sholeh baik yang nampak maupun yang tidak nampak, dimana dalam perspektif Islam itu adalah kebaikan yang memiliki landasan contohnya dari Rasululloh sholallohu alaihi wasallam. Amal sholeh diyakini sebagai sarana mendasar dan penting bersama dengan keimanan untuk meraih harga diri. Jika dengan keimanan, secara tersurat seorang manusia akan meraih harga dirinya di mata Alloh. Maka amal sholeh tidaklah demikian, karena cakupannya yang luas maka amal sholeh ini dapat mengantarkan seseorang pada raihan harga diri di mata Alloh ta’ala dan di mata manusia. Bahkan pada tataran tertentu makhluk-makhluk selain manusia ikut berkontribusi melakukan perbuatan-perbuatan yang secara logika sehat itu tidak bisa diterima, sebagai bentuk penghargaan terhadap pengamal-pengamal sholeh. Hadits Nabi sholallohu alaihi wasallam berikut ini yang artinya:

Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Alloh akan buka jalan baginya menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya karena ridho dengan penuntut ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, sampai ikan-ikan yang berada di air.” (HR. Tirmidzi No. 2682)

Hal yang menakjubkan kita semua dalam hadits tersebut adalah malaikat yang meletakkan sayapnya dan seluruh penduduk langit dan bumi beristighfar untuk orang ‘alim yang merupakan bentuk apresiasi terhadap dirinya. Diraihnya harga diri tersebut tidak lepas dari amal sholeh yang dilakukan oleh penuntut ilmu dan orang ‘alim.

Inilah makna harga diri yang sesungguhnya. Iman yang kuat dan amal sholeh yang tepat akan mengantarkan seseorang meraih harga diri yang setingi-tingginya. Makna ini tentu tidak meniadakan keberadaan makna lainnya yang memang ketika tema harga diri ini diangkat, maka yang terlintas dalam alam fikiran kita secara otomatis adalah seputar bagaimana seseorang memiliki jiwa-jiwa kesatriaan ketika yang berkaitan dengan martabat dirinya dilecehkan, dirampas bahkan diinjak-injak. Hal ini tentu sangat dijunjung tinggi dalam agama Islam, simaklah Hadits berikut:

“Barangsiapa mati terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia adalah syahid, dan barangsiapa mati terbunuh karena mempertahankan keluarganya atau darahnya atau agamanya maka ia adalah syahid.” (HR. Abu Dawud No. 4774)

Oleh karena itu, bersyukurlah anda wahai saudaraku muslim dan muslimah yang telah diberikan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala berupa nikmat keimanan dan amal sholeh. Karena dengan iman dan amal sholeh kita telah meraih harga diri kita yang setinggi-tingginya di mata Alloh dan para hamba-Nya. Untuk  selanjutnya, masing-masing kita terus berupaya meningkatkan iman dan amal sholeh kita, baik secara kualitas maupun kuantitas. Sehingga harga diri kita pun semakin melejit, yang pada gilirannya akan sangat menentukan di tingkatan mana posisi kita berada dalam surga. Renungkanlah hal ini wahai saudaraku yang dirahmati Alloh ta’ala, semoga kita semua beruntung. Wallohu a’lam bishowab.

Minggu, 16 November 2014

Manisnya Tawakal


Oleh: Syaeful Rohim, M.A.Pd
Kehidupan kita terus berjalan, hari esok pun siap menyapa kita. Banyak perkara yang harus kita lalui, baik yang dianggap mudah atau sulit. Semua itu akan dilakoni oleh manusia dengan sukarela atau terpaksa. Yang terpenting bagi seorang muslim adalah bertawakal kepada Alloh subhanahu wa ta’ala pada semua perkara, setelah dia berusaha dengan sekuat tenaga.
Dengan menggantungkan usaha kita kepada Alloh subahanahu wa ta’ala, akan membuahkan hasil sangat berharga, dikarenakan Alloh subhanahu wa ta’ala yang Maha Agung lagi Maha Perkasa. Dengan keperkasaan-Nya, hanya Alloh yang mampu memberikan hasil usaha manusia. Oleh karena itu, hiasilah semua usaha dan tindakan anda dengan bertawakal kepada Alloh.
Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada hamba-Nya untuk selalu beribadah dan beramal dengan penuh tawakal, karena di dalamnya terdapat buah manis yang membuat pelakunya bahagia di dunia dan di akhirat. Buah manis tawakal dapat kita lihat pada ayat-ayat Alloh dan hadis nabawi.
Tentu kita sangat penasaran dengan buah manis tawakal? Oleh karena itu, mari kita kaji bersama-sama hal tersebut melalui ayat dan hadis nabawi. Di antara buah manisnya sebagai berikut:
Kemenangan dan keberhasilan
Keberhasilan yang diberikan oleh Alloh ta’ala kepada hamba-Nya merupakan anugerah besar yang tidak dapat dipungkiri atau dihadang seorang makhluk pun, walaupun mereka bersekutu untuk menggagalkannya. Salah satu cara untuk mendapatkan anugerah Ilahi ini dengan hanya bertawakal kepada-Nya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,
 إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ 
“Jika Alloh menolong kalian, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kalian; jika Alloh membiarkan kalian (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian (selain) dari Alloh sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Alloh saja orang-orang mukmin bertawakkal”. (QS. Ali Imron [03]: 160)
Terjaga dari makar musuh
Setan merupakan musuh bagi manusia, seperti yang mereka katakan sendiri dihadapan Alloh untuk selalu menggoda dan mengelincirkan bani Adam. Akan tetapi, Alloh subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa tipu daya setan -atau bala tentaranya, dukun, tukang sihir, para normal dan lain-lain tak akan dapat menimpa pada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya,
 إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 
Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepadaRobbnya”. (QS. Al-Nahl [16]: 99)
Rezeki melimpah
Anda pengen kaya? Iya. Itu mudah insya Alloh, dengan berusaha sebatas kemampuan dan bertawakal hanya kepada Alloh subahanahu wa ta’ala, dikarenakan kekayaan seseorang diperoleh hanya pemberian dari sang Maha Pemberi Rezeki, bukan dari yang lainnya. Oleh karena itu, pasrahkan semua yang telah Anda usahakan hanya kepada Alloh, maka Anda akan kaya seperti yang telah dijanjikan. Tentu hal itu dilakukan dengan sebenar-benarnya, bukan setengah atau masih ada keraguan.
Umar bin Khothtob rodhallohu anhu berkata: Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
Andaikan kalian benar-benar bertawakal kepada Alloh, niscaya kalian akan mendapatkan rezeki sebagaimana burung memperoleh rezeki. Dia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong, lalu pulang di sore harinya dalam keadaan perut kenyang.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkomentar bahwa hadis ini hasan sahih)
Penjagaan, pengawasan dan kecukupan
Pengawal bagi manusia merupakan sebuah kebutuhan agar dirinya terhindar dari marabahaya yang diperbuat oleh orang-orang yang membencinya, atau setan dan jin yang mengganggunya. Banyak orang atau tukang sihir yang menawarkan sebagai penjaga dan pelindung. Akan tetapi itu hanya tipu daya dan sebatas kemampuannya. Hanya saja, seorang yang bertawakal kepada Alloh subhanahu wa ta’ala akan mendapatkan perlindungan, pengawasan dan kecukupan dari-Nya. Itu dapat dipastikan, tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu orang yang mendapatkan penjagaan dari Alloh. Dikarenakan Alloh Maha “Aziz” (perkasa). Allohta’ala berfirman:
 وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا 
“Tawakallah kepada Alloh. cukuplah Alloh menjadi Pelindung.” (QS. An-Nisa: 81)
 وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا 
“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Alloh telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Tholaq [65]: 3)
 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 
“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS. Al-Anfal [8]: 49)
Mendapatkan cinta dari Alloh
Tanpa cinta, hidup di dunia ini sangat sengsara. Sebaliknya dengan cinta, hidup penuh bahagia. Akan tetapi, cinta yang seperti itu hanya diberikan oleh Sang Maha Kuasa.
“Saat Alloh subhanahu wa ta’ala mencintai seorang hamba, Dia memberitahukan pada Jibril dan memerintahkannya untuk mencintainya. Jibril pun mencintai orang itu dan memberitahukan kepada semua makhluk yang ada di langit tentang kecintaan Alloh azza wa jalla kepadanya, “maka cintailah orang itu”. Penduduk langit pun langsung mencintainya. Kemudian orang yang dicintai Alloh mendapatkan penerimaan dari penduduk bumi.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Untuk mendapatkan cinta dari Alloh adalah dengan selalu bertawakal kepada-Nya pada semua urusan dan keadaan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
 فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkAlloh kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imron : 159)
Pahala surga penuh nikmat.
Kebahagiaan abadi merupakan keinginan dan cita-cita setiap manusia, tanpa dibatasi hanya orang muslim saja. Orang-orang nashrani dan Yahudi sangat menginginkan kebahagiaan. Bahkan orang yang paling bodoh pun sangat mengharapkan kebahagiaan menghampirinya. Akan tetapi, setiap orang menggapai harapannya dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian orang mendatangi kuburan untuk kebahagiaan, sebagian lain mendatangi dukun untuk hal itu. Bahkan ada orang yang banting tulang demi kebahagiaan.
Akan tetapi, Islam memberikan solusi bagi umat dengan cara yang terbaik, yaitu dengan berusaha dan menggantungkan cita-citanya hanya kepada Alloh ta’ala. Tidak bergantung pada kemampuan dirinya dikarenakan ada ketebatasan, dan juga tidak bergantung pada orang lain -walaupun dukun- dikarenakan mereka juga tidak dapat menjamin kebahagiaan pada dirinya sendiri, apalagi mendatangkan kebahagiaan kepada oran lain.
Kebahagiaan yang abadi adalah di surga. Alloh subhanahu wa ta’ala menyiapkan hal itu kepada orang-orang yang hanya bertawakal kepada-Nya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
 وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا ۖ فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ(58) وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ (59)
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang sholih, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah Sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Robbnya”. (QS. Al-Ankabut [29]: 58-59)
Sebaliknya, orang yang menggantungkan cita-cita kepada selain Alloh subhanahu wa ta’ala akan mendapatkan pahitnya buah perbuatannya. Dengan kata lain orang yang bertawakal kepada selain Alloh, dia telah melakukan kesyirikan. Sehingga ancaman kesengsaraan di dunia dan siksa neraka di akhirat selalu menghantuinya selama dia tidak bertaubat kepada Alloh ta’ala.
Dengan panjatan puji syukur kepada Alloh subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kemampuan kepada kita dalam berusaha dan berkarya, semoga itu semua selalu teriringi dengan tawakal kepada sang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Wallohu 'Alam Bishowab